|
Nama
|
Inas hanifah
|
|
TTL
|
Mojokerto, 13 juni 1996
|
|
Alamat
|
JL. Empunala no 408
|
|
Jenis kelamin
|
Perempuan
|
Rabu, 16 April 2014
Rabu, 09 April 2014
Telaga Bidadari
Cerita Rakyat dari Kalimantan Selatan
Desa Pematang Gadung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar.
Cindelaras
Cerita Rakyat dari Jawa Timur
“Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri,” pikirnya.
Aji Saka
Cerita Rakyat dari Jawa
Genre : Dongeng
Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda.
Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.
Asal Usul Kota Banyuwangi
Cerita Rakyat dari Banyuwangi
Genre : Legenda
Pada
zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah
kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan
bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama
Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari
ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden
Banterang kepada para abdinya
Hikayat Bunga Kemuning
![]() |
| Kemuning - Murraya paniculata L. Jack |
Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya.
Putri Tandampalik
Cerita Rakyat dari Luwuk
Dahulu, terdapat sebuah negeri yang bernama negeri Luwu, yang terletak di pulau Sulawesi. Negeri Luwu dipimpin oleh seorang raja yang bernama La Busatana Datu Maongge, sering dipanggil Raja atau Datu Luwu.
Bukit Fafinesu
Cerita Rakyat dari Pulau Timor
Di sebelah utara Kota Famenanu, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur terdapat sebuah bukit bernama Fafinesu yang berarti Bukit Babi Gemuk. Ada suatu kisah menarik yang melatarbelakangi penamaan bukit itu. Kisahnya adalah sebagai berikut.
Raja Empedu
Cerita Rakyat dari Musi Rawas
Raja Empedu adalah seorang raja muda yang memerintah di Negeri Hulu Sungai Nusa, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Suatu ketika, Raja Empedu membantu Raja Pangeran Mas dari Kerajaan Lesung Batu untuk membinasakan Raja Kubang yang terkenal sakti mandraguna. Berhasilkah Raja Empedu membinasakan Raja Kubang? Ikuti kisahnya dalam cerita Raja Empedu berikut.
Raja Empedu adalah seorang raja muda yang memerintah di Negeri Hulu Sungai Nusa, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Suatu ketika, Raja Empedu membantu Raja Pangeran Mas dari Kerajaan Lesung Batu untuk membinasakan Raja Kubang yang terkenal sakti mandraguna. Berhasilkah Raja Empedu membinasakan Raja Kubang? Ikuti kisahnya dalam cerita Raja Empedu berikut.
* * *
Pengorbanan Putri Kemarau
Cerita Rakyat dari Sumatra Selatan
Putri Jelitani adalah seorang putri raja di sebuah kerajaan di daerah Sumatra Selatan. Suatu ketika, negeri sang Putri dilanda kemarau yang amat panjang. Keadaan yang sulit itu baru akan pulih jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan mencebur ke laut. Oleh karena tak seorang pun yang mau berkorban, maka dengan ikhlas sang Putri rela melakukannya demi keselamatan rakyatnya dari bahaya kelaparan. Bagaimana nasib Putri Kemarau selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Pengorbanan Putri Kemarau berikut ini
Dahulu, di Sumatra Selatan ada seorang putri raja bernama Putri Jelitani. Namun, ia akrab dipanggil Putri Kemarau karena dilahirkan pada musim
Asal Mula Bukit Catu
Cerita Rakyat dari Bali
Genre : Legenda
Alkisah di pedalaman Pulau Bali, terdapat sebuah desa yang subur dan makmur. Sawah dan ladangnya selalu memberikan panen yang berlimpah. Di desa tersebut tinggal seorang petani bernama Pak Jurna dan istrinya. Mereka menginginkan hasil panen padinya lebih banyak dari pada hasil panen sebelumnya. "Hem, sebaiknya pada musim tanam padi sekarang ini kita berkaul," usul Pak Jurna pada istrinya. "Berkaul apa, pak?" sahut Bu Jurna. "Begini, jika hasil panen padi nanti meningkat kita buat sebuah tumpeng nasi besar, ujar Pak Jurna penuh harap. Ibu Jurna setuju.
Ternyata hasil panen padi Pak Jurna meningkat. Sesuai dengan kaul yang telah diucapkan, lantas Pak Jurna dan istrinya membuat sebuah tumpeng nasi besar. Selain itu diadakan pesta makan dan minum. Namun Pak Jurna dan istrinya belum puas dengan hasil panen yang mereka peroleh. Mereka ingin berkaul lagi dimusim padi berikutnya. "Sekarang kita berkaul lagi. Jika hasil panen padi nanti lebih meningkat, kita akan membuat tiga tumpeng nasi besar-besar," ujar Pak Jurna yang didukung istrinya. Mereka pun ingin mengadakan pesta yang lebih meriah daripada pesta sebelumnya.
Beungong Meulu dan Beungong Peukeun
Cerita Rakyat dari Aceh
Genre : Dongeng
Penulis: Yulia S. Setiawati
Penulis: Yulia S. Setiawati
Pada
zaman dahulu kala, di sebuah negeri di Aceh, hidup dua orang
kakak-beradik yang bernama Beungong Meulu dan Beungong Peukeun. Kedua
orangtua mereka telah meninggal dunia. Tiap hari Beungong Peukeun
mencari udang di danau. Suatu hari Beungong Peukun tidak mendapat
seekor udang pun. Saat hendak pulang, dia melihat sebuah benda yang
menarik hatinya. Ternyata benda itu sebutir telur.
Sesampainya di rumah, direbusnya telur tadi dan dimakannya. Sungguh
aneh, keesokan harinya Beungong Peukeun merasa sangat haus. Bukan hanya
itu, tubuhnya pun semakin panjang dan bersisik. Akhirnya, suatu pagi
saat bangun dari tidurnya Beungong Peukun telah berubah menjadi seekor
naga.
“Mengapa Kakak memakan telur itu? Kini kau menjadi seekor naga,” kata Beungong Meulu dengan terisak menyesali perbuatan kakaknya. Keesokan harinya Beungong Peukeun mengajak adiknya meninggalkan gubuk mereka. Sebelum berangkat, Beungong Peukeun menyuruh adiknya memetik tiga kuntum bunga di belakang gubuk mereka. “Ayo, naiklah ke punggungku dan peganglah bunga itu erat-erat, jangan sampai jatuh,” perintah Beungong Peukeun.
Saat melewati sungai besar, Beungong Peukeun meminum airnya hingga
habis. Tiba-tiba muncul seekor naga yang marah karena perbuatan
Beungong Peukeun tersebut. Keduanya bertarung sengit. Saat
Beungong Peukuen memenangkan pertarungan tersebut sekuntum
bunga di tangan Beungong Meulu menjadi layu.
Banta Berensyah
Cerita Rakyat dari Aceh
Banta
Berensyah adalah seorang anak laki-laki yatim dan miskin. Ia sangat
rajin bekerja dan selalu bersabar dalam menghadapi berbagai hinaan dari
pamannya yang bernama Jakub. Berkat kerja keras dan kesabarannya
menerima hinaan tersebut, ia berhasil menikah dengan seorang putri raja
yang cantik jelita dan dinobatkan menjadi raja. Bagaimana kisahnya?
Ikuti cerita Banta Berensyah berikut ini.
Alkisah,
di sebuah dusun terpencil di daerah Nanggro Aceh Darussalam, hiduplah
seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Banta
Berensyah. Banta Berensyah seorang anak yang rajin dan mahir bermain
suling. Kedua ibu dan anak itu tinggal di sebuah gubuk bambu ya
Naga Sabang dan Dua Raksasa Seulawah
Cerita Rakyat dari Aceh
Genre : Legenda terjadinya pulau We
Diceritakan kembali oleh Wildan Seni
Pada
suatu masa saat pulau Andalas masih terpisah menjadi dua pulau yaitu
pulau bagian timur dan pulau bagian barat, kedua pulau ini di pisahkan
oleh selat barisan yang sangat sempit, diselat itu tinggalah seekor naga
bernama Sabang, pada masa itu di kedua belah pulau tersebut berdiri dua
buah kerajaan bernama Kerajaan Daru dan Kerajaan Alam. Kerajaan Daru di
pimpin oleh Sultan Daru berada di pulau bagian timur dan kerajaan Alam
di pimpin oleh Sultan Alam berada dipulau bagian barat. Sultan Alam
sangat Adil dan bijaksana kepada rakyatnya dan sangat pintar berniaga
sehingga kerajaan Alam menjadi kerajaan yang makmur dan maju. Sedangkan
Sultan Daru sangat kejam kepada rakyatnya dan suka merompak kapal-kapal
saudagar yang melintasi perairannya.
Sudah lama Sultan Daru
iri kepada Sultan Alam dan sudah sering pula dia berusaha menyerang
kerajaan Alam namun selalu di halangi oleh Naga Sabang, sehingga
keinginannya menguasai kerajaan Alam yang makmur tidak tercapai.
Maka pada suatu hari
dipanggilah penasehat kerajaan Daru bernama Tuanku Gurka, “Tuanku Gurka,
kita sudah sering menyerang Kerajaan Alam tetapi selalu di halangi oleh
naga Sabang, coba engkau cari tahu siapa orang yang bisa mengalahkan
Naga itu”, perintah Sultan Daru.
“Yang mulia, Naga Sabang
adalah penjaga selat Barisan, kalau naga itu mati maka kedua pulau ini
akan menyatu karena tidak ada makhluk yang mampu merawat penyangga
diantara kedua pulau ini selain naga itu”, jelas Tuanku Gurka.
“Aku tidak peduli kedua pulau ini menyatu, aku ingin menguasai kerajaan Alam”, jelas Sultan Daru.
“Ada dua raksasa bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong, mereka sangat sakti”, kata Tuanku Gurka.
“Seulawah Agam memiliki
kekuatan yang sangat besar sedangkan Seulawah Inong mempunyai pedang
geulantue yang sangat cepat dan sangat tajam”, tambah Tuanku Gurka.
Maka tak lama kemudian
datanglah kedua raksasa tersebut menghadap Sultan Daru untuk
menyampaikan kesangupan mereka bertarung menghadapi naga Sabang. Tak
lama kemudian dikirimlah utusan kepada naga Sabang untuk memberi tahu
bahwa kedua raksasa itu akan datang bertarung dengannya.
Ular Dandaung
Cerita Rakyat dari Kalimantan Selatan
Genre : Dongeng
Di
kisahkan pada dahulu kala ada sebuah kerajaan besar dan termasyhur di
wilayah Kalimantan Selatan. Letak kerajaan tersebut diapit dua buah
gunung dan dialiri sebuah sungai besar. Tanahnya sangat subur dan
rakyatnya hidup makmur. Hasil kekayaan alamnya melimpah ruah. Kerajaan
itu dipimpin oleh seorang raya yang adil dan bijaksana. Beliau mempunyai
permaisuri dan tujuh putri yang cantik. Kekayaan alam yang dimiliki
bukan untuk kepentingan keluarga Raja, melainkan untuk kesejahteraan
rakyat. Rakyat mengolah lahan pertanian sesuai dengan hak yang mereka
miliki. Tidak pernah terjadi sengketa antar penduduk. Mereka hidup rukun
dan damai.
"Ada burung raksasa!",
teriak penduduk negeri yang melihat burung raksasa itu. Mereka tidak
tahu darimana asalnya burung raksasa yang tiba-tiba datang mengamuk itu.
Burung raksasa itu sangat menakutkan, paruhnya besar dan tajam
mengkilat. Sekali mematuk manusia langsung menemui ajal.
Cakarnya dapat langsung
mencengkram puluhan orang dan dibuat tak berdaya. Kepak sayapnya membuat
hampir seluruh wilayah negeri menjadi gelap gulita. Seluruh rakyat
negeri itu menjadi panik dan kalang kabut.
"Kita harus melawan
burung raksasa itu?" kata Mahapatih kepada Sri Baginda Raja. Sri Baginda
Raja segera mengirim ribuan prajurit pilihan untuk menghancurkan burung
raksasa itu. Bermacam senjata diarahkan ke tubuh burung raksasa itu,
namun sia-sia. Bahkan burung raksasa itu semakin membabi buta, mengamuk
bagai banteng terluka. Tak seorang prajuritpun selamat, demikian
penduduk negeri. Sawah dan ladang menjadi porak poranda. Keadaan negeri
yang rukun dan damai itu, bagaikan kalah perang.
Melihat kerajaan yang
sudah hancur luluh lantak dan tak ada lagi rumah, sawah, maupun harta
benda yang tersisa, semuanya itu membuat rakyat menjadi semakin
tersiksa. Maka dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, prajurit dan rakyat
yang sempat melarikan diri bahu membahu menyusun kekuatan dan
mengumpulkan senjata apa saja untuk melawan burung raksasa yang jahat
itu. Berkat kekompakan dan kerjasama antara prajurit dan rakyat yang
mati-matian melawan burung raksasa, akhirnya burung raksasa kelelahan
dan menghentikan serangannya. Rakyat bersyukur kepada Tuhan untuk
sementara terhindar dari serangan burung raksasa.
Beberapa hari kemudian,
mereka dikejutkan oleh kedatangan seekor ular raksasa. Ular itu membuka
mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidah berbisa dihadapan keluarga
Raja yang sangat ketakutan.
"Jangan takut Baginda, hamba tidak akan membunuh Baginda dan keluarga, asalkan Baginda sudi mengabulkan permohonan hamba," kata ular itu sambil mendesis.
Mendengar ucapan ular raksasa yang memberi tanda tidak akan membahayakan keluarganya, Sri Baginda memberanikan diri berkata pada ular raksasa. "Siapakah engkau ? Dan apa keinginanmu ?," tanya Baginda Raja.
"Jangan takut Baginda, hamba tidak akan membunuh Baginda dan keluarga, asalkan Baginda sudi mengabulkan permohonan hamba," kata ular itu sambil mendesis.
Mendengar ucapan ular raksasa yang memberi tanda tidak akan membahayakan keluarganya, Sri Baginda memberanikan diri berkata pada ular raksasa. "Siapakah engkau ? Dan apa keinginanmu ?," tanya Baginda Raja.
"Nama hamba Ular Dandaung," jawab ular raksasa dengan penuh hormat.
"Hamba ingin memperistri salah seorang putri Baginda," lanjutnya.
Tentu saja keluarga Raja terperanjat. Bahkan putri sulung dan kelima adiknya menjerit ketakutan sambil merangkul ibundanya. Namun, Sri Baginda tenang dan berusaha menguasai keadaan agar jangan sampai suasana menjadi kacau. Sri Baginda berpikir sejenak sambil mengatur nafas. Beliau ingin mencari jalan keluar yang terbaik, sebab bila beliau salah langkah, pasti jiwa mereka terancam.
"Aku tidak menolak, tetapi juga tidak menerima permintaanmu," kata Sri Baginda setengah kebingungan.
"Aku harus bertanya kepada putri-putriku," tambahnya. Mendengar jawaban Sri Baginda itu, mata Ular Dandaung bersinar-sinar seperti mengharapkan kepastian dari salah seorang putri Raja.
"Hamba ingin memperistri salah seorang putri Baginda," lanjutnya.
Tentu saja keluarga Raja terperanjat. Bahkan putri sulung dan kelima adiknya menjerit ketakutan sambil merangkul ibundanya. Namun, Sri Baginda tenang dan berusaha menguasai keadaan agar jangan sampai suasana menjadi kacau. Sri Baginda berpikir sejenak sambil mengatur nafas. Beliau ingin mencari jalan keluar yang terbaik, sebab bila beliau salah langkah, pasti jiwa mereka terancam.
"Aku tidak menolak, tetapi juga tidak menerima permintaanmu," kata Sri Baginda setengah kebingungan.
"Aku harus bertanya kepada putri-putriku," tambahnya. Mendengar jawaban Sri Baginda itu, mata Ular Dandaung bersinar-sinar seperti mengharapkan kepastian dari salah seorang putri Raja.
Namun putri-putri Raja dari yang sulung sampai putri keenam tidak mau menerima pinangan Ular Dandaung.
"Aku tidak mau kawin dengan ular yang menjijikkan !,". "Cih !. Lebih baik aku mati, daripada kawin dengannya", begitulah kata-kata yang keluar dari putri-putri Baginda Raja.
Akhirnya,"Aku bersedia menjadi istrinya," jawab Putri Bungsu sambil bersimpuh di depan ayahandanya.
Akhirnya, Putri Bungsu dan Ular Dandaung diumumkan sebagai suami istri yang sah. Tentu saja banyak ejekan maupun cemooh dari keenam kakaknya, namun ia jawab dengan senyuman manis.
"Aku tidak mau kawin dengan ular yang menjijikkan !,". "Cih !. Lebih baik aku mati, daripada kawin dengannya", begitulah kata-kata yang keluar dari putri-putri Baginda Raja.
Akhirnya,"Aku bersedia menjadi istrinya," jawab Putri Bungsu sambil bersimpuh di depan ayahandanya.
Akhirnya, Putri Bungsu dan Ular Dandaung diumumkan sebagai suami istri yang sah. Tentu saja banyak ejekan maupun cemooh dari keenam kakaknya, namun ia jawab dengan senyuman manis.
Pada suatu malam, Putri
Bungsu tiba-tiba terbangun dan terkejut melihat yang berada di
sampingnya bukan Ular Dandaung, melainkan seorang pemuda tampan dan
gagah perkasa berbusana Raja.
"Jangan terkejut, aku suamimu. Kau telah menolongku bebas dari kutukan," kata Ular Dandaung meyakinkan. Setelah Putri Bungsu tenang, Ular Dandaung kemudian bercerita bahwa ia dikutuk karena kesalahannya. Ia akan terbebas dari kutukan apabila dapat memperistri seorang putri raja, dan ia berhasil.
Melihat kejadian itu, keenam kakak Putri Bungsu menyesal. Namun nasi telah menjadi bubur.
Ular Dandaung ternyata
seorang yang sakti mandraguna. Melihat kerajaan mertuanya porak poranda
ia langsung turun tangan. Ia segera mencari tempat Burung Raksasa.
Terjadilah pertempuran hebat. Ular Dandaung mengerahkan segala
kesaktiannya dan akhirnya berhasil membinasakan burung raksasa. Sejak
saat itu, desa tersebut menjadi aman dan tenteram kembali."Jangan terkejut, aku suamimu. Kau telah menolongku bebas dari kutukan," kata Ular Dandaung meyakinkan. Setelah Putri Bungsu tenang, Ular Dandaung kemudian bercerita bahwa ia dikutuk karena kesalahannya. Ia akan terbebas dari kutukan apabila dapat memperistri seorang putri raja, dan ia berhasil.
Melihat kejadian itu, keenam kakak Putri Bungsu menyesal. Namun nasi telah menjadi bubur.
Asal Mula Huruf Jawa
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah
Genre : Legenda
Alkisah, di Dusun Medang Kawit, Desa Majethi, Jawa Tengah, hiduplah seorang pendekar tampan yang sakti mandraguna bernama Aji Saka. Ia mempunyai sebuah keris pusaka dan serban sakti. Selain sakti, ia juga rajin dan baik hati. Ia senantiasa membantu ayahnya bekerja di ladang, dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Ke mana pun pergi, ia selalu ditemani oleh dua orang abdinya yang bernama Dora dan Sembada.
Pada suatu hari, Aji Saka meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mengembara bersama Dora. Sementara, Sembada ditugaskan untuk membawa dan menjaga keris pusaka miliknya ke Pegunungan Kendeng.
“Sembada! Bawa keris pusaka ini ke Pegunungan Kendeng. Kamu harus menjaganya dengan baik dan jangan berikan kepada siapa pun sampai aku sendiri yang mengambilnya!” pesan Aji Saka kepada Sembada.
“Baik, Tuan! Saya berjanji akan menjaga dan merawat keris pusaka Tuan!” jawab Sembada.
Putri Kemang
Cerita Rakyat Suku Serawai (Bengkulu)
Putri Kemang adalah seorang perempuan, tetapi sifatnya
seperti laki-laki. Kesukaannya pergi berburu, memancing ikan
di sungai dan berjalan masuk hutan. Kampungnya terletak di
pinggir hutan yang lebat. Bapaknya seorang raja. Oleh sebab itu
Putrì Kemang seperti laki-laki dididik sebagai prajurit, belajar
bermain pedang, memanah dan menombak.
Pada suatu hari Putri Kemang pergi berburu rusa. Peralatannya sebilah pedang dan sebatang tombak. Anjing kesayangannya dibawanya pula. Berjalanlah ia, masuk hutan keluar hutan, masuk rimba keluar rimba, masuk padang keluar padang, naik gunung turun gunung, batang air diseberangjnya. Kalau tidak pakai rakit, ia berenang. Setelah lama berjalan, bertemulah ia. dengan seekor rusa belang kakinya. Rusa dibidiknya dengan panah, tetapi tidak kena. Panas hatinya. Lalu dikejarnya rusa itu. Diikutinya terus ke mana perginya rusa itu. Sedikit pun tak lepas dari pandangannya. Setelah lama kejar mengejar itu, tiba-tiba rusa berhenti di bawah sebatang pohon kemang. Putri Kemang mendekat. Rusa menyingkir sedikit. Setelah Putri dekat dengan pohon kemang itu, lalu pokok kemang itu berkata kepada Putri,
"Hai putri, jangan kau kejar rusa itu. Rusa itu adalah seekor harimau."
Putri Kemang terkejut mendengar kata pokok kemang itu. la berpikir, akan mengapa ia sekarang. Bagaimana caranya menyuruh harimau itu lari, atau dibunuh saja. Lalu ia mengambil kesimpulan bahwa harimau itu akan dibunuhnya, walaupun ada risikonya. Naiklah ia ke atas pokok kemang itu. Harimau dibidiknya dengan panah. Akan panah mengena badan harimau itu. Harimau mati seketika itu juga. Lalu ia turun ke bawah. Setelah sampai di bawah, harimau itu dikulitinya dan kulitnya diambil.
Genre : Dongeng
Pada suatu hari Putri Kemang pergi berburu rusa. Peralatannya sebilah pedang dan sebatang tombak. Anjing kesayangannya dibawanya pula. Berjalanlah ia, masuk hutan keluar hutan, masuk rimba keluar rimba, masuk padang keluar padang, naik gunung turun gunung, batang air diseberangjnya. Kalau tidak pakai rakit, ia berenang. Setelah lama berjalan, bertemulah ia. dengan seekor rusa belang kakinya. Rusa dibidiknya dengan panah, tetapi tidak kena. Panas hatinya. Lalu dikejarnya rusa itu. Diikutinya terus ke mana perginya rusa itu. Sedikit pun tak lepas dari pandangannya. Setelah lama kejar mengejar itu, tiba-tiba rusa berhenti di bawah sebatang pohon kemang. Putri Kemang mendekat. Rusa menyingkir sedikit. Setelah Putri dekat dengan pohon kemang itu, lalu pokok kemang itu berkata kepada Putri,
"Hai putri, jangan kau kejar rusa itu. Rusa itu adalah seekor harimau."
Putri Kemang terkejut mendengar kata pokok kemang itu. la berpikir, akan mengapa ia sekarang. Bagaimana caranya menyuruh harimau itu lari, atau dibunuh saja. Lalu ia mengambil kesimpulan bahwa harimau itu akan dibunuhnya, walaupun ada risikonya. Naiklah ia ke atas pokok kemang itu. Harimau dibidiknya dengan panah. Akan panah mengena badan harimau itu. Harimau mati seketika itu juga. Lalu ia turun ke bawah. Setelah sampai di bawah, harimau itu dikulitinya dan kulitnya diambil.
ASAL MULA POHON ENAU
Cerita Rakyat dari Nusa Tenggara Barat
Pada zaman dahulu kala ada sebuah keluarga yang mempunyai seorang anak bernama Dedara Nunggal. Ketika Dedara Nunggal menjelang dewasa, kedua orang tuanya bercerai. Sejak itu Dedara Nunggal tinggal bersama ayahnya. Namun, setelah ayahnya kawin lagi, ia mulai mengecap kehidupan pahit dan penuh dengan penderitaan. Ibu tirinya menganggap semua pekerjaan yang dilakukannya selalu salah. Dedara Nunggal pun sering bercekcok
Pada zaman dahulu kala ada sebuah keluarga yang mempunyai seorang anak bernama Dedara Nunggal. Ketika Dedara Nunggal menjelang dewasa, kedua orang tuanya bercerai. Sejak itu Dedara Nunggal tinggal bersama ayahnya. Namun, setelah ayahnya kawin lagi, ia mulai mengecap kehidupan pahit dan penuh dengan penderitaan. Ibu tirinya menganggap semua pekerjaan yang dilakukannya selalu salah. Dedara Nunggal pun sering bercekcok
Asal Usul Pohon Sagu dan Palem
Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah
Pohon sagu dan palem merupakan jenis tanaman dataran rendah tropik yang banyak ditemukan tumbuh liar di kawasan hutan Dolo, Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, asal usul kedua jenis pohon ini berasal dari tubuh manusia atau penjelmaan manusia. Hal ini dikisahkan dalam sebuah legenda yang hingga kini masih dipercayai kebenarannya oleh masyarakat setempat. Bagaimana manusia dapat menjelma menjadi pohon sagu dan palem? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Usul Pohon Sagu dan Palem berikut ini!
![]() |
| Pohon Sagu (latin : Metroxylon sago Rottb.) |
Alkisah, di daerah Donggala, Sulawesi Tengah, hidup sepasang suami-istri
Banta Seudang
Cerita Rakyat dari Aceh
Genre : Dongeng
Banta Seudang adalah
putra Raja Kerajaan Aceh. Ia bersama ayah dan ibunya dicampakkan oleh
Pakciknya sendiri, karena ayahnya buta dan tidak dapat lagi melaksanakan
tugas-tugas kerajaan. Suatu ketika, Banta Seudang pergi merantau untuk
mencari obat mata untuk ayahnya dengan harapaan dapat kembali menjadi
raja. Berhasilkah Banta Seudang menemukan obat mata untuk ayahnya?
Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Banta Seudang berikut ini.
Alkisah,
di Negeri Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia, hiduplah seorang
Karang Bolong
Cerita Rakyat dari Banten
Beberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan Kartasura. Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras.
Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang terbalutkan kulit.
Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura. Roda pemerintahan menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. "Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan permaisuri," kata penasehat istana.
Putri Kandita
Cerita Rakyat dari Bogor
Diceritakan kembali oleh Samsuni
Alkisah, di daerah Pakwan (kini Kota Bogor), Jawa Barat, tersebutlah seorang raja bernama Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi yang bertahta di Kerajaan Pakuan Pajajaran. Ia adalah raja yang arif dan bijaksana. Sang Prabu juga mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita dan beberapa selir yang cantik-cantik. Dari hasil perkawinannya dengan sang permaisuri lahir seorang putri yang bernama Putri Kandita.
Putri Kandita memiliki paras yang cantik melebihi kecantikan ibunya. Ia merupakan putri kesayangan Prabu Siliwangi. Ketika ia mulai dewasa, sifat arif dan bijaksana seperti yang dimiliki oleh sang ayah mulai muncul pada dirinya. Tidak mengherankan jika Prabu Siliwangi bermaksud mencalonkan Putri Kandita sebagai penggantinya kelak. Namun, rencana tersebut ternyata tidak disukai oleh para selir dan putra-putrinya yang lain. Oleh karena itu, mereka pun bersekongkol untuk mengusir Putri Kandita dan ibunya dari istana.
Suatu malam, para selir Prabu Siliwangi dan putra-putri mereka mengadakan pertemuan rahasia di dalam istana.
Malin Kundang
Cerita Rakyat Sumatera Barat
Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah
Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin
Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah
malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.
Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.
Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.
Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.
Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.
Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.
Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.
Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Langganan:
Postingan (Atom)























