Rabu, 09 April 2014
Bukit Fafinesu
Cerita Rakyat dari Pulau Timor
Di sebelah utara Kota Famenanu, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur terdapat sebuah bukit bernama Fafinesu yang berarti Bukit Babi Gemuk. Ada suatu kisah menarik yang melatarbelakangi penamaan bukit itu. Kisahnya adalah sebagai berikut.
Raja Empedu
Cerita Rakyat dari Musi Rawas
Raja Empedu adalah seorang raja muda yang memerintah di Negeri Hulu Sungai Nusa, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Suatu ketika, Raja Empedu membantu Raja Pangeran Mas dari Kerajaan Lesung Batu untuk membinasakan Raja Kubang yang terkenal sakti mandraguna. Berhasilkah Raja Empedu membinasakan Raja Kubang? Ikuti kisahnya dalam cerita Raja Empedu berikut.
Raja Empedu adalah seorang raja muda yang memerintah di Negeri Hulu Sungai Nusa, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Suatu ketika, Raja Empedu membantu Raja Pangeran Mas dari Kerajaan Lesung Batu untuk membinasakan Raja Kubang yang terkenal sakti mandraguna. Berhasilkah Raja Empedu membinasakan Raja Kubang? Ikuti kisahnya dalam cerita Raja Empedu berikut.
* * *
Pengorbanan Putri Kemarau
Cerita Rakyat dari Sumatra Selatan
Putri Jelitani adalah seorang putri raja di sebuah kerajaan di daerah Sumatra Selatan. Suatu ketika, negeri sang Putri dilanda kemarau yang amat panjang. Keadaan yang sulit itu baru akan pulih jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan mencebur ke laut. Oleh karena tak seorang pun yang mau berkorban, maka dengan ikhlas sang Putri rela melakukannya demi keselamatan rakyatnya dari bahaya kelaparan. Bagaimana nasib Putri Kemarau selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Pengorbanan Putri Kemarau berikut ini
Dahulu, di Sumatra Selatan ada seorang putri raja bernama Putri Jelitani. Namun, ia akrab dipanggil Putri Kemarau karena dilahirkan pada musim
Asal Mula Bukit Catu
Cerita Rakyat dari Bali
Genre : Legenda
Alkisah di pedalaman Pulau Bali, terdapat sebuah desa yang subur dan makmur. Sawah dan ladangnya selalu memberikan panen yang berlimpah. Di desa tersebut tinggal seorang petani bernama Pak Jurna dan istrinya. Mereka menginginkan hasil panen padinya lebih banyak dari pada hasil panen sebelumnya. "Hem, sebaiknya pada musim tanam padi sekarang ini kita berkaul," usul Pak Jurna pada istrinya. "Berkaul apa, pak?" sahut Bu Jurna. "Begini, jika hasil panen padi nanti meningkat kita buat sebuah tumpeng nasi besar, ujar Pak Jurna penuh harap. Ibu Jurna setuju.
Ternyata hasil panen padi Pak Jurna meningkat. Sesuai dengan kaul yang telah diucapkan, lantas Pak Jurna dan istrinya membuat sebuah tumpeng nasi besar. Selain itu diadakan pesta makan dan minum. Namun Pak Jurna dan istrinya belum puas dengan hasil panen yang mereka peroleh. Mereka ingin berkaul lagi dimusim padi berikutnya. "Sekarang kita berkaul lagi. Jika hasil panen padi nanti lebih meningkat, kita akan membuat tiga tumpeng nasi besar-besar," ujar Pak Jurna yang didukung istrinya. Mereka pun ingin mengadakan pesta yang lebih meriah daripada pesta sebelumnya.
Beungong Meulu dan Beungong Peukeun
Cerita Rakyat dari Aceh
Genre : Dongeng
Penulis: Yulia S. Setiawati
Penulis: Yulia S. Setiawati
Pada
zaman dahulu kala, di sebuah negeri di Aceh, hidup dua orang
kakak-beradik yang bernama Beungong Meulu dan Beungong Peukeun. Kedua
orangtua mereka telah meninggal dunia. Tiap hari Beungong Peukeun
mencari udang di danau. Suatu hari Beungong Peukun tidak mendapat
seekor udang pun. Saat hendak pulang, dia melihat sebuah benda yang
menarik hatinya. Ternyata benda itu sebutir telur.
Sesampainya di rumah, direbusnya telur tadi dan dimakannya. Sungguh
aneh, keesokan harinya Beungong Peukeun merasa sangat haus. Bukan hanya
itu, tubuhnya pun semakin panjang dan bersisik. Akhirnya, suatu pagi
saat bangun dari tidurnya Beungong Peukun telah berubah menjadi seekor
naga.
“Mengapa Kakak memakan telur itu? Kini kau menjadi seekor naga,” kata Beungong Meulu dengan terisak menyesali perbuatan kakaknya. Keesokan harinya Beungong Peukeun mengajak adiknya meninggalkan gubuk mereka. Sebelum berangkat, Beungong Peukeun menyuruh adiknya memetik tiga kuntum bunga di belakang gubuk mereka. “Ayo, naiklah ke punggungku dan peganglah bunga itu erat-erat, jangan sampai jatuh,” perintah Beungong Peukeun.
Saat melewati sungai besar, Beungong Peukeun meminum airnya hingga
habis. Tiba-tiba muncul seekor naga yang marah karena perbuatan
Beungong Peukeun tersebut. Keduanya bertarung sengit. Saat
Beungong Peukuen memenangkan pertarungan tersebut sekuntum
bunga di tangan Beungong Meulu menjadi layu.
Banta Berensyah
Cerita Rakyat dari Aceh
Banta
Berensyah adalah seorang anak laki-laki yatim dan miskin. Ia sangat
rajin bekerja dan selalu bersabar dalam menghadapi berbagai hinaan dari
pamannya yang bernama Jakub. Berkat kerja keras dan kesabarannya
menerima hinaan tersebut, ia berhasil menikah dengan seorang putri raja
yang cantik jelita dan dinobatkan menjadi raja. Bagaimana kisahnya?
Ikuti cerita Banta Berensyah berikut ini.
Alkisah,
di sebuah dusun terpencil di daerah Nanggro Aceh Darussalam, hiduplah
seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Banta
Berensyah. Banta Berensyah seorang anak yang rajin dan mahir bermain
suling. Kedua ibu dan anak itu tinggal di sebuah gubuk bambu ya
Naga Sabang dan Dua Raksasa Seulawah
Cerita Rakyat dari Aceh
Genre : Legenda terjadinya pulau We
Diceritakan kembali oleh Wildan Seni
Pada
suatu masa saat pulau Andalas masih terpisah menjadi dua pulau yaitu
pulau bagian timur dan pulau bagian barat, kedua pulau ini di pisahkan
oleh selat barisan yang sangat sempit, diselat itu tinggalah seekor naga
bernama Sabang, pada masa itu di kedua belah pulau tersebut berdiri dua
buah kerajaan bernama Kerajaan Daru dan Kerajaan Alam. Kerajaan Daru di
pimpin oleh Sultan Daru berada di pulau bagian timur dan kerajaan Alam
di pimpin oleh Sultan Alam berada dipulau bagian barat. Sultan Alam
sangat Adil dan bijaksana kepada rakyatnya dan sangat pintar berniaga
sehingga kerajaan Alam menjadi kerajaan yang makmur dan maju. Sedangkan
Sultan Daru sangat kejam kepada rakyatnya dan suka merompak kapal-kapal
saudagar yang melintasi perairannya.
Sudah lama Sultan Daru
iri kepada Sultan Alam dan sudah sering pula dia berusaha menyerang
kerajaan Alam namun selalu di halangi oleh Naga Sabang, sehingga
keinginannya menguasai kerajaan Alam yang makmur tidak tercapai.
Maka pada suatu hari
dipanggilah penasehat kerajaan Daru bernama Tuanku Gurka, “Tuanku Gurka,
kita sudah sering menyerang Kerajaan Alam tetapi selalu di halangi oleh
naga Sabang, coba engkau cari tahu siapa orang yang bisa mengalahkan
Naga itu”, perintah Sultan Daru.
“Yang mulia, Naga Sabang
adalah penjaga selat Barisan, kalau naga itu mati maka kedua pulau ini
akan menyatu karena tidak ada makhluk yang mampu merawat penyangga
diantara kedua pulau ini selain naga itu”, jelas Tuanku Gurka.
“Aku tidak peduli kedua pulau ini menyatu, aku ingin menguasai kerajaan Alam”, jelas Sultan Daru.
“Ada dua raksasa bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong, mereka sangat sakti”, kata Tuanku Gurka.
“Seulawah Agam memiliki
kekuatan yang sangat besar sedangkan Seulawah Inong mempunyai pedang
geulantue yang sangat cepat dan sangat tajam”, tambah Tuanku Gurka.
Maka tak lama kemudian
datanglah kedua raksasa tersebut menghadap Sultan Daru untuk
menyampaikan kesangupan mereka bertarung menghadapi naga Sabang. Tak
lama kemudian dikirimlah utusan kepada naga Sabang untuk memberi tahu
bahwa kedua raksasa itu akan datang bertarung dengannya.
Langganan:
Postingan (Atom)





